Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2012

Sepotong Takdir

Waktu seolah membentang jarak Segala tanya berkecamuk di benak Akankah segala harap mungkin terwujud? Sedang gemericik rerindu gigil menusuk
Cinta, bawalah sayap-sayapmu kemari Terbanglah dalam pelukan kasihNya Hanyutlah dalam mahabbah padaNya Tenangkan jiwa atas kehendakNya Ah... nyatanya kekhawatiranku omong kosong belaka Nyatanya Dia telah menggoreskan takdirNya untukmu Serupa merpati, pada sangkar yang mana ia harus pulang Begitulah hati, ia selalu tahu kemana ia harus berlabuh
Hari ini pun menjadi bukti, Allah dan malaikat pun menjadi saksi Setiap insan mengamini Inilah persembahan cintaku...















*Special Poem to my brotha, bang iduR dan my little sista, Neng Mel Barakallah... :)

07072012


Kedewasaan

Pagi memendar dingin yang menusuk. Ku rapatkan jaket merah hitamku, duduk di antara puluhan santri yang telah berkumpul menghadap seorang guru besar yang terduduk di depan kelas. Ku lirik jam logam yang melingkar di lengan kiriku menunjukkan pukul 5. 40. Waktu yang paling nikmat untuk tidur kembali selepas shalat shubuh dengan udara yang menghembus, merayu.
"Ada yang mau ditanyakan?" ucap sang guruku tegas. Aku masih tertunduk memainkan pulpen dengan ujung jariku. Berpikir, mengaduk-aduk isi otakku untuk mencari perkara yang bisa aku ungkap.
"Pak ustadz, apa yang membuat orang bisa menjadi berpikir dewasa dan bijak?" tanya seorang ikhwan di ujung sudut kiri. Pertanyaan menyentakku. Aku mengangkat kepalaku. Sekilas ku lirik ikhwan itu lalu ku alihkan pandanganku pada guruku.

Dandelion

Mentari semakin merunduk di ufuk barat, sisa cahayanya masih menelusup di Jendela Masjid. Shalat Ashar berjamaah yang diimami Ust. Dadan hampir berlalu satu jam yang lalu. Meski demikian seperti biasanya masjid ini selalu ramai oleh jamaah. Beberapa orang sedang shalat ashar, mungkin mereka masih memiliki urusan saat adzan berkumandang, beberapa orang sedang tilawah, dan tak jarang pula yang sedang melafalkan al ma’tsurat sore. Aku baru saja menyelesaikan do’a rabithah dalam al ma’tsuratku, ketika Hilya yang duduk di sampingku dengan penuh semangat tengah menyelami muraja’ah hafalan juz 30-nya di surat An Nazi’at. Aku memperhatikannya dengan seksama. Ia meniti tiap makharijul huruf dan tajwidnya dengan hati-hati. Wajahnya terlihat tenang dan bening seperti permata. Tak heran jika orangtua kami menyematkan nama itu baginya. “Fa’amma man khafa maa khooma rabbihi wannahannafsa ‘anil hawaa...” lirihnya. “Wa’ama man khafa maa khooma rabbihi wa nahannafsa ‘anil hawaa...” aku mengoreksinya. Ia…