Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

Nila

Lagi kau datang menghampiriku dengan wajah ditekuk. Padahal senja di luar sana begitu cantik tanpa mendung seperti yang kau suka. Ada tangis yang tersendat di kelopak matamu. Bibirmu bergetar tapi kau mencoba tetap tegar. Aku menghela nafas lelah. Ku tatap kau dengan pandangan iba. Biar ku tebak, lagi-lagi para lelaki itu menolakmu. Apa yang salah denganmu? Pikirku. Kau cantik, anggun dan begitu lembut. Hatimu demikian halus. Ah, aku tahu. Tuhan sedang melindungimu dari para lelaki itu dan menyiapkan seseorang yang terbaik untukmu. Tuhan menyiapkan seseorang yang paling pantas untuk mendampingimu karena kau istimewa, bisikku dalam hati.
“Kemarilah...” ku rentangkan tanganku menyambutmu. Kau segera menghambur dan ku benamkan kau dalam tubuhku. Tangismu mulai meleleh. Tergugu kau dalam pelukkanku. “Apa yang salah denganku, Nila?” bisiknya dalam keterguguan. “Tidak ada.” Jawabku pendek. Ku hela nafas sejenak berharap kau tak mendengar tangis yang mulai mengisak di hatiku. “Percayalah, Tuha…

Jingga

“Kita mencintai hujan di pagi hari. Karena ianya...” kata-katamu terhenti sejenak. “Begitu syahdu.” Ucap kita bersamaan. Kau menarik tanganku menembus gerimis halus yang menyenandungkan lagu lembut yang hanya bisa disimak oleh orang-orang berhati lembut sepertimu. Kaki-kaki kita memercikan air dalam kubangan sisa hujan deras shubuh tadi.
“Menikahlah, Jingga...” gumammu. “Aku tahu kau membutuhkan seseorang yang lebih untuk mendampingimu.” Ia melirik ke arahku. Kedua manik mata itu tampak berbinar penuh harap. “Kau lebih dari sekedar saudara dan sahabat bagiku.” Jawabku. “Aku tahu, setiap malam kau memimpikan seorang pangeran di sisimu. Seseorang yang tidak hanya menyerahkan bahunya dan menggenggam tanganmu saat kau menangis. Tapi ia yang juga selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.” Katamu dengan suara nyaring seperti kicauan burung pagi ini yang hilang karena gerimis masih bersenandung. “Kau sendiri?” tanyaku. Ku hentikan langkah kakiku. Kau terlambat berhenti lantas berbalik menoleh ke…

Rindu yang Tertafsir

Seperti pada senja-senja sebelumnya. Senja kali ini ia berdiri di bibir pantai dengan air laut yang membenam hingga mata kakinya. Rutinitas itu seakan telah diiringi tendensi kata “wajib”. Pandangannya tertumbuk pada sinar kemerahan sang mentari lelah yang balik menusuk kedua matanya. Nafasnya masih beraturan sama dengan ritme yang demikian syahdu. Kali ini lebih tenang dari biasanya. Bibirnya masih terkatup, namun kali ini tertarik simetris ke kiri dan ke kanan. Tangannya terentang bersiap memeluk hembusan angin. Seakan itulah sayapnya yang akan membawa ia melambung menyentuh awan. Perlahan kelopak matanya mulai turun. Lantas purna menutup bola mata hitamnya. Seperti ritual yang biasa ia jalani. Ia telah bersiap menyimak bisikan angin di gendang telingannya. Kali ini tak ada suara yang berbisik tentang Safir dan Zamrud. Tidak pula hanya sekedar menanyakan kabarnya yang bahkan semesta tahu benar ia bukan hanya baik-baik saja.

Bongkahan Es

“Aku tersesat!” Kalimat itu masuk di roomchat ponsel kami. Aku hanya tersenyum-senyum tanpa sedikit pun minat untuk membalas pesanmu. Ku biarkan Raka yang sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan membimbingmu menemukan kafe tempat berkumpul saat ini.
Selang beberapa menit kau telah datang dengan nafas terengah-engah. Ada yang berbeda denganmu, kau tak lagi tampil dengan rok katun dan kemeja formalmu sebiasanya. Kini ku akui kau tampak anggun dengan gaun merah jambu bermotif bunga-bunga kecil. Sebuah ikat pinggang cokelat yang melingkar di perutmu membuatmu tampil lebih modis dari biasanya. Oh weekend! aku sekarang mengerti kenapa kau bisa berpakaian bebas. “Maaf.” Ucapmu dengan senyum kuda yang biasa kau pamerkan saat berbuat salah. Kau duduk di hadapanku yang persis hanya tersekat meja. Aku melirikmu sekilas dan kembali ku mainkan ponselku berpura tak acuh padamu. Aku hanya ingin menyembunyikan desiran darahku yang menderas serta kekikukan yang meringkusku seiring dengan kedatanganmu. “…

[Cerpen] Rindu tanpa Tafsir

Pandangan itu masih tertuju pada hamparan samudera. Ia hanya diam tak bergeming saat deburan ombak kecil merendam telapak kakinya. Matanya mulai terpejam perlahan. Telinganya bersiap menyimak hembusan angin yang membisik. Tangannya terentang memeluk udara. Nafasnya naik turun beraturan, bernada dengan ritme yang syahdu. Bibirnya terkatup rapat membungkam terkunci, bila saja anak kuncinya telah hanyut di bawa ombak. “Hai...” kesunyian bebisik angin berubah hangat dengan sekelebat suara yang menyapa. Ia masih bungkam. “Apa kabar?” tanya suara itu mengusik ketenangannya. “Selalu lebih baik dari yang sebelumnya.” Jawabnya tipis. Ia masih menikmati setiap hempasan angin di wajahnya. “Dan kau?” Hening beberapa saat. Hanya deburan ombak dan tiupan angin yang menguasai. “Aku jauh lebih baik setelah melewati masa sulit.” Akhirnya suara itu kembali. Mestinya jawaban itu menjadi jawaban terbaik yang menerbitkan bulan sabit di bibirnya. Namun sebaliknya, hatinya perih pilu. Ia tahu bahwa ‘jauh lebih…

Rindu tanpa Tafsir

Terulang

Malam telah sempurna memeluk kota itu saat hujan mulai mereda setelah ia turun menggemparkan dengan ribuan kubik airnya yang tumpah ruah. Udara dingin mulai menusuk ke sumsum setiap orang. Baginya, dingin pun turut menyusup ke palung hatinya. Gadis itu terduduk di pojok ruang tamu. Tangannya menekan dada kirinya, ada perih yang sulit dieja olehnya. Sesekali matanya melirik ponsel, masih tak ada sms dari orang yang mengajaknya pergi malam itu. Ia merapatkan jaketnya saat udara beku mulai menghembus. Sesekali ia menghembus nafasnya kasar. Matanya kembali melirik ke layar ponselnya, masih kosong. Hanya ada gambar dirinya yang telah ia tetapkan sebagai wallpaper. Ia memandangi jam digital di ponselnya, hampir menunjuk ke arah 19.00 Jadi gk? Udah nyampe mana? *** “Untuk kesekian kalinya...” Gadis itu mengirimkan pesan padanya. “Memang kenapa?” balas seseorang. “Tidak apa-apa. Memang harus begini.” Jawab gadis itu. “Tapi tak apa-apa, aku tak seperti yang kita prediksi kemarin.” Tambahnya. “Bagusl…