Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

Nila

Lagi kau datang menghampiriku dengan wajah ditekuk. Padahal senja di luar sana begitu cantik tanpa mendung seperti yang kau suka. Ada tangis yang tersendat di kelopak matamu. Bibirmu bergetar tapi kau mencoba tetap tegar. Aku menghela nafas lelah. Ku tatap kau dengan pandangan iba. Biar ku tebak, lagi-lagi para lelaki itu menolakmu. Apa yang salah denganmu? Pikirku. Kau cantik, anggun dan begitu lembut. Hatimu demikian halus. Ah, aku tahu. Tuhan sedang melindungimu dari para lelaki itu dan menyiapkan seseorang yang terbaik untukmu. Tuhan menyiapkan seseorang yang paling pantas untuk mendampingimu karena kau istimewa, bisikku dalam hati.
“Kemarilah...” ku rentangkan tanganku menyambutmu. Kau segera menghambur dan ku benamkan kau dalam tubuhku. Tangismu mulai meleleh. Tergugu kau dalam pelukkanku. “Apa yang salah denganku, Nila?” bisiknya dalam keterguguan. “Tidak ada.” Jawabku pendek. Ku hela nafas sejenak berharap kau tak mendengar tangis yang mulai mengisak di hatiku. “Percayalah, Tuha…

Jingga

“Kita mencintai hujan di pagi hari. Karena ianya...” kata-katamu terhenti sejenak. “Begitu syahdu.” Ucap kita bersamaan. Kau menarik tanganku menembus gerimis halus yang menyenandungkan lagu lembut yang hanya bisa disimak oleh orang-orang berhati lembut sepertimu. Kaki-kaki kita memercikan air dalam kubangan sisa hujan deras shubuh tadi.
“Menikahlah, Jingga...” gumammu. “Aku tahu kau membutuhkan seseorang yang lebih untuk mendampingimu.” Ia melirik ke arahku. Kedua manik mata itu tampak berbinar penuh harap. “Kau lebih dari sekedar saudara dan sahabat bagiku.” Jawabku. “Aku tahu, setiap malam kau memimpikan seorang pangeran di sisimu. Seseorang yang tidak hanya menyerahkan bahunya dan menggenggam tanganmu saat kau menangis. Tapi ia yang juga selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.” Katamu dengan suara nyaring seperti kicauan burung pagi ini yang hilang karena gerimis masih bersenandung. “Kau sendiri?” tanyaku. Ku hentikan langkah kakiku. Kau terlambat berhenti lantas berbalik menoleh ke…

Rindu yang Tertafsir

Seperti pada senja-senja sebelumnya. Senja kali ini ia berdiri di bibir pantai dengan air laut yang membenam hingga mata kakinya. Rutinitas itu seakan telah diiringi tendensi kata “wajib”. Pandangannya tertumbuk pada sinar kemerahan sang mentari lelah yang balik menusuk kedua matanya. Nafasnya masih beraturan sama dengan ritme yang demikian syahdu. Kali ini lebih tenang dari biasanya. Bibirnya masih terkatup, namun kali ini tertarik simetris ke kiri dan ke kanan. Tangannya terentang bersiap memeluk hembusan angin. Seakan itulah sayapnya yang akan membawa ia melambung menyentuh awan. Perlahan kelopak matanya mulai turun. Lantas purna menutup bola mata hitamnya. Seperti ritual yang biasa ia jalani. Ia telah bersiap menyimak bisikan angin di gendang telingannya. Kali ini tak ada suara yang berbisik tentang Safir dan Zamrud. Tidak pula hanya sekedar menanyakan kabarnya yang bahkan semesta tahu benar ia bukan hanya baik-baik saja.